Viral Vaksin Sinovac Mengandung Ginjal Monyet Hijau Afrika, Ini Penjelasannya - Tips Dokter
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Viral Vaksin Sinovac Mengandung Ginjal Monyet Hijau Afrika, Ini Penjelasannya

 

Viral Vaksin Sinovac Mengandung Ginjal Monyet Hijau Afrika, Ini Penjelasannya


Indonesia dihebohkan dengan kabar yang mengatakan bahwa vaksin buatan Sinovac yang dipesan Indonesia mengandung vero cell. 


Vero cell sendiri merupakan media kultur virus dari ginjal monyet hijau afrika (African green monkey). Alhasil vaksin Sinovac ini diyakini haram karena memiliki kandungan tersebut. 


Petugas Lab Covid-19, dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK menegaskan bahwa vaksin Sinovac tidak mengandung vero cell. Tapi, vero cell adalah media kultur untuk media kembang dan tumbuh virus tersebut. Media kultur sendiri, adalah tempat untuk membiakkan virus tersebut agar bisa diteliti. 


“Kalau tidak ada media kultur, virusnya akan mati dan tidak bisa digunakan untuk pembuatan vaksin,” tulis dr. Raehanul Bahraen dalam penjelasannya, Sabtu (2/1/2021). 


Ia pun menjelaskan fenomena ini dengan sesuatu yang lebih mudah agar dapat dipahami masyarakat dengan baik. 


“Pohon mangga dikultur atau ditanam di tanah kemudian dikasih pupuk kandang, lalu pohon mangga berbuah. Buah mangga ini baru dicampur untuk buat rujak atau es buah. Jadi bukan tanahnya yang dicampur ke rujak atau atau es buah,” lanjutnya. 


Dokter Raehanul melanjutkan, virus tersebut hidup dengan baik untuk keperluan vaksin pada vero cell, sebagaimana pohon mangga hanya bisa hidup di atas tanah. Tidak ada cara lain untuk mengembak-biakkan virus tersebut selain cara ini. 


Selain karena kandungan vero cell yang terdapat dalam vaksin Covid-19, kabar miring tersebut juga mempertanyakan mengenai tulisan yang bertulis ‘Only for clinical trial’ pada kemasan vaksin Sinovac yang beredar di masyarakat. 


Dr. Raehanul pun memiliki jawaban tersendiri mengenai fenomena yang sedang ramai diperbincangkan saat ini. 


“Pada vaksin ditulis ‘only for clinical trial’, jadi memang untuk trial uji klinis fase 3 saja, bukan untuk yang dipakai di masyarakat umum dan tenaga kesehatan secara massal nanti dan tidak untuk diperjual-belikan secara massal,” tambahnya. 


Dokter Raehanul juga menjelaskan bahwa tidak ada jaminan bagi orang yang sudah divaksin tidak bakal tertular Covid-19 lagi. Pasalnya vaksin tidak mencegah virus 100%. Banyak faktor yang memengaruhi seperti daya tahan tubuh pasien, ada penyakit imunologi, serta lain sebagainya. 


“Tetapi fakta yang sering kami para dokter jumpai di lapangan adalah orang yang sudah divaksin ketika terkena penyakit, maka manifestasi klinisnya dan gejalanya lebih ringan daripada yang tidak sama sekali,” sambungnya. 


Menurutnya saat ini para ilmuan sudah sangat ‘amanah ilmiah’ dalam menjalankan tugasnya. Sebab, tidak ada yang disembunyikan berupa komposisi dan kandungan yang ada dalam vaksin tersebut.